Dian Purnomo and Her Two Cents
Saya pernah kursus Bahasa Mandarin (huss, sudah-sudah! Jangan trus melongo gitu donk, lebayy amat sih?). Cuman tiga bulan aja, belum bisa ngomong apa-apa, belum bisa buat baca Beijing Post, belum laku buat audisi film-nya Jet Lee – kecuali kalo cuman figuran yang ditendang sekali langsung mental n cuman perlu teriak , “wuaaaaaa…..” hehe….
Bahasa Mandarin itu indah dan berlagu. Mangkanya kalau nonton film mandarin sering berasa nonton operet yaa (hayahh lebayy). Selain bunyi, nada yang menyertainya juga berperan penting dalam memberi makna suatu kata. Dua kata yang bunyinya sama bisa beda artinya kalau nadanya beda. Misalnya kata ‘ma’, yang satu artinya ‘ibu’, tapi kalau nadanya beda bisa berarti ‘kuda’. Jadi hati-hati pas menyapa ibu-ibu di Beijing, kalau salah nada bisa dihajar pakai sapu hahaha….
Ada empat nada dasar dalam Bahasa Mandarin: datar, naik, turun terus naik, dan turun. Sebagai satu-satunya pejantan tangguh di kelas, saya paling kewalahan dan salah melulu kalau sudah menyangkut nada. Ya iyalah! Cewe kan dah biasa ngomong bernada dan bermanja, lah saya?
Gurunya namanya Miss Clara. Dia berdarah Cina tapi lahir di Surabaya, Indonesia (emang ada Surabaya Hongkong?). Bu guru itu pinter sekali Bahasa Mandarin :p , dan pernah kuliah di Beijing selama setahun khusus untuk belajar bahasa ni hao ma itu. Dia juga baik sekali dan sangat memperhatikan perkembangan berbahasa murid-muridnya. Sedikit galak, tapi itu demi kebaikan kami semua si Laskar Pelangi (hayahhh).
Miss Clara tidak merekomendasikan buku-buku belajar-mandarin di pasaran. Alih-alih, dia membawakan kami buku pelajaran asli Beijing, tempatnya belajar dulu. Saya sempat kaget. Kok bukunya sederhana banget ya? Kertasnya buram, bindingnya dijahit sederhana, kavernya minimalis, hurufnya imut abis, kualitas cetak ala kadarnya. Jauh sekali dibandingkan buku-buku mutakhir terbitan Indonesia yang kavernya seperti mau diikutkan lomba desain grafis saking kerennya.
Miss Clara bilang, buku-buku terbitan Cina memang rata-rata begitu. Wujud fisiknya minimalis, tapi kualitas isinya yang digenjot. Untuk menghemat ongkos produksi, supaya harga jualnya terjangkau. Jadi buku-buku di Cina memang rata-rata murah, sehingga minat baca dan minat beli di sana relatif tinggi. Hasilnya, penduduknya jadi tambah pintar, ‘well informed’ serta wawasannya luas.
Blognya Mbak Dian Purnomo ini seperti buku terbitan Cina. Layoutnya sederhana. Warna temanya standar alias putih. Kolom menu diisi seperlunya dan tidak banyak assessoris. Mesinnya juga masih WordPress 2.3.1. Tapi jangan terkecoh. Kualitas postingannya sama sekali tidak ‘sederhana’. Isinya bernas, gaya tulisnya akrab, asik dan enak dibaca. Tidak heran karena mantan penyiar FeMale Radio ini ternyata penulis juga. Novel karyanya berjudul “Andini” telah diterbitkan pula.
Salah satu postingan paling memukau berupa cerpen berjudul “Untuk Shizuka”. Cerpen ini menuturkan kenangan seorang ibu tentang anaknya. Dengan bahasa yang sederhana, cerpen berkelas sastra ini mampu menghadirkan kedalaman makna hubungan antara ibu dan anak perempuannya yang romantis, penuh dinamika, lucu, penuh ‘pertikaian’, layak dikenang serta membangkitkan kerinduan. Karena hobinya merajut, Mbak Dian mampu merajut benang-benang peristiwa biasa dan membumi seperti popok yang bau ompol, anak yang ogah dipeluk dan sok dewasa, juga masa remaja yang penuh pergolakan menjadi syal indah ungkapan cinta seorang ibu kepada anaknya dan seorang anak kepada ibunya.
Cerpen ini juga dimuat di Good Housekeeping Magazine, sebuah majalah wanita milik kelompok Hearst, yang edisi Amerika-nya telah terbit sejak 1885 dan pernah memuat karya penulis-penulis masyur seperti Somerset Maugham dan Virginia Woolf.
Sudahlah, pokoknya kalau sampeyan-sampeyan sempat berkunjung ke sana, cerpen ini termasuk postingan yang wajib dibaca (bisa dicari di kategori ‘masterpiece’, termasuk juga postingan wajib-baca lainnnya).
Rupanya tampilan yang ala kadarnya hanyalah untuk menyamarkan kualitas isi yang sesungguhnya. Tapi seperti melati, meskipun kecil dan putih saja alih-alih warna-warni seperti anggrek, serta bentuk kelopaknya juga standar, tapi dasar bunga, harumnya tetap menyebar ke mana-mana. Tidak heran banyak saja komentar yang ditinggalkan pengunjung di setiap postingan.
Jadi mbak, karena kedoknya sudah terbuka dan tidak bisa lagi menyamar dan pura-pura menjadi blogger berpostingan biasa-biasa saja, kenapa blognya tidak didandanin sekalian? Tidak perlu habis-habisan. Sedikit warna di pojok sana dan sini, sedikit gambar di header, sedikit penataan kembali maupun penambahan komponen di kolom menu (misalnya shoutbox atau peralatan pencari) kiranya cukup. Kalau sedang mempertimbangkan alternatif tampilan, sekarang banyak theme WordPress yang cantik-cantik tapi tetap ringkas dan ringan diunduh.
Blog ini termasuk gampang navigasinya, tapi Lagi Usil tidak menemukan ‘clickable link’ yang mengantarkan kita ke beranda kalau kita sedang di halaman lain.
Oh ya, satu catatan lagi, soal Adsense. Saya juga barusan tahu, ternyata Bahasa Indonesia belum didukung oleh Adsense, kecuali untuk ‘Adsense for search’. Artinya kita tidak bisa memasang Adsense di situs yang berbahasa selain yang didukung Adsense:
Please also be aware that placing the AdSense code on pages with content primarily in an unsupported language is not permitted by the AdSense program policies.
Bahasa yang didukung Google Adsense bisa dicek di sini.
Karena blog ini bilingual, kalau tetap mau memasang Google Adsense mungkin bisa diakali dengan memperbanyak postingan berbahasa Inggris, supaya dianggap bahwa Inggris adalah bahasa utamanya (tapi saya kurang jelas juga, bahasa tambahannya harus yang juga didukung atau tidak). Kalau tidak bisa juga diganti dengan adsense (dengan ‘a’ kecil) lokal seperti Ppcindo, Kumpul Blogger atau AdsenseCamp.
Sepertinya sudah semua, Mba’ Dian. Maaph kalau ulasannya terlalu jauh dan terlalu usil hehe…. Keep blogging, keep posting terutama cerpen-cerpennya
Fakta dalam angka:
- Alexa Traffic Rank: 1.648.622
- PageRank: 1
- Yahoo Search Inlinks: 432
- Technorati Blog Rank: 636.719
Dicek dengan Alexa dan Rankwidget.
Ingin blog Anda direview juga? Silakan tinggalkan komentar di Daftar Tunggu. Gratis
![]()
Comments (16)





menarik juga nich mas, mas usil bisa jadi duta besar dibeijing
salam kenal mas…
blog walking
Jadi makin tahu tentang Mbak Dian Purnomo..selain pintar merajut juga novelis…sampeyan kok tahu banget seh mas soal Mbak Dian….suaminya po…..?
ternyata bener ya kata pepatah, don’t judge a book from its cover… ternyata isi bukunya berguna banget yaa…
saya malah puyeng kalau denger bahasa mandarin .Tapi suka nonton filmnya
selamat pagi dan salam sinting!!!!
baru ajah mampir ke rumahnya mba dian. Seru euy postingannya
matur nuwun mas usil.
pengen banget mendandani ‘rumah’ saya, tapi keterbatasan kemampuan make up yang masih saya upgrade.
semoga proses belajarnya bisa agak cepat ya kali ini…
sekali lagi, nuwun
barusan mampir dari rumahnya mba Dian nih, thanks infonya kawan
dibalik kesederhanaan yang terlihat ada tersimpan potensi yang luar biasa, sukses untuk anda semua
Wah latihan bahasa mandarin ya mas, boleh…boleh…
salam kenal mas
halo salam kenal nih dari blogger newbie
just another newbie blog adalah web portal untuk saling berbagi pengetahuan dan informasi terkini tentang joomla, blogger, internet, berita hot, foto artis, video lucu, free download mp3
blogwalking mas
@ belajar internet marketing: wah, kalo saya duta besarnya nanti ujung2nya kita bakal perang hehe…
@ blog walker: salam kenal juga….
@ Si Gembala: bukan suaminya mas, saya keduluan hahaha….
@ Yanti: iya, ternyata terbukti ya….:)
@ Aisha: ya minum paramex dulu sebelum dengerin mbak
@ Zulhaq: selamat pagi juga….
@ quinie: postingan yg ini yah?….*GR salah alamat*
@ dian: sama-sama. bisa aja mbak dian ini….theme baru banyak yg bisa dicoba loh..
@ Stop Dreaming Start Action: bener mas, cuman perlu dipoles aja
@ Ricky: cuman iseng mas, tapi bahasanya ndak mau diisengin ternyata.
@ maseta: salam kenal juga, trims dah berkunjung…
@ alfon: trims mas…
Sama.. saya suka berkunjung ke blognya Dian.. bahasanya enak dibaca dan membumi *acung jempol*
iya bahasa mandarin memang seru untuk dipelajari! wah jadi kenal mbak dian deh, ternyata orang jogja juga yah!