Tahu tidak, saya paling dongo kalau sudah menyangkut ucap-mengucap salam (sebenernya menyangkut hal-hal lainnya juga).
Misalnya mengucapkan selamat ulang tahun pada teman yang baru berultah (ya eyalaah, masa yg baru nikah?), yang abis wisuda, yang baru melahirkan bayi, yang mengkhitankan puteranya, yang merayakan hari jadiannya, yang selesai potong rambut, yang barusan laku kambingnya, yang abis beli kaus kaki baru….. Paling susah saya mencari kata-kata yang tepat diucapkan pada saat yang penuh suka cita dan kebahagiaan berlimpah itu.
Kalau dipaksakan juga, ujung-ujungnya jadi garing atau malah bikin salah paham dan merusak pertemanan. Misalnya buat yang baru nikah, saya biasanya cuman bilang “Selamat menempuh hidup baru,” Garing, basi, standar n jadul banget kan? Atau “Selamat mengarungi bahtera rumah tangga yang baru.” Salah kaprah kan, wong bahtera itu kapal koq diarungi. Kan laut yang mustinya diarungi. Jadi harusnya, “Selamat mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera rumah tangga yang baru.” Hmm, agak betul tapi kedengarannya ribet….
Trus misalnya yang abis potong rambut, “Huee, yang barusan potong rambut… Habis berapa gunting tadi?” Atau, “Laahh, koq potong? Padahal lagi mo pinjam dirimu buat orang-orangan sawah je.”
Atau yang ganti kaus kaki, “Hm? *mengendus-endus* Kamu koq ga bau sih? *melihat ke bawah* Uweeee, ganti kaus kaki yah? Modelnya lucu loh, satu ijo satu kuning….”
Itu masih mending karena judulnya riang gembira. Orang biasanya lebih toleran dan gampang memaafkan dalam kondisi positif. Saya lebih gagap lagi kalau terdampar dalam suasana duka. Misalnya menengok teman yang baru bercerai, atau melayat tetangga. Dalam suasana seperti itu, saya biasanya memilih tutup mulut saja, karena tidak cakap menyusun kata-kata menghibur yang pantas diucapkan. Soalnya nanti kalau maksa juga, mereka bukannya terhibur tapi malah tambah sedih, marah, tersinggung atau terhina.
Misalnya kalau lagi melayat tetangga atau teman. Saya biasanya memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang musti digenapi untuk mengurus pemakaman. Menata kursi, memasang tenda, mengangkat peti atau keranda, apa saja yang diperlukan (kecuali menggali kubur atau memandikan jenasah). Dan tugas duduk mendampingi keluarga almarhum saya serahkan pada teman-teman sang penghibur seperti piyu, fadli dan yang lain. Jadi saya sangat menghargai mereka yang pandai merangkai kata, memilih ungkapan yang tepat dalam situasi yang tepat, sehingga menyelamatkan suasana. Karena itu mereka saya bebaskan dari tugas-tugas fisik yang bisa dikerjakan oleh siapa saja yang cukup bermodalkan kesediaan membantu.
Pernah seorang teman saya meninggal. Usianya baru 20 tahun. Dia kena radang usus buntu. Karena anaknya pendiam dan cenderung introvert, dia tidak pernah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Baru saat sakitnya sudah tak tertahankan, anak itu dibawa ke rumah sakit. Sayang radangnya sudah sedemikian parah. Dokter berusaha, tapi Tuhan yang menentukan. Dan Tuhan punya agenda sendiri yang berbeda dengan bayangan dokter dan harapan keluarga anak itu.
Waktu pelayat sudah banyak yang datang, sebagian termasuk saya sibuk dengan ini-itu kaitannya dengan mempersiapkan pemakaman, ibunya bangun dari pingsan dan menghampiri almarhum yang dibaringkan di ruang keluarga. Lantas dia membuka kain penutup wajah anak itu dan mulai mengguncang-guncang bahunya.
“Bangun nak, ayo bangun, bangun!” katanya sambil mulai menangis sesenggukan. Beberapa orang termasuk anaknya yang lain segera menghampiri dan menenangkannya, menuntunnya untuk duduk kembali.
Saya sering melihat adegan semacam itu, bahkan lebih dahsyat dan memilukan lagi di sinetron, di mana sang ibu sampai nangis2 bombay dan lebay. Jadi peristiwa itu standar saja. Dan pas nonton adegan itu di sinetron, tidak ada rasa apa-apa selain sebal koq tidak iklan-iklan.
Tapi dalam suasana yang sungguh nyata itu, perasaan saya sama sekali lain. Saya begitu tersentuh dan bisa merasakan sayatan tajam yang mengiris hati ibu yang kehilangan putranya itu. Tangisannya yang sederhana tapi penuh ketulusan itu benar-benar merobek hati saya.
Di dunia seni peran barat (film dan teater), salah satu teknik penjiwaan peran yang banyak dianut adalah Method Acting (enda tau padanan katanya apa qiqiqi). Pas menerapkan Method Acting ini, sang aktor mencoba meresapi, menanamkan dan membangkitkan dalam dirinya, pikiran, perasaan serta emosi yang “dialami” karakter yang dimainkannya.
Tujuannya agar penampilannya bisa maksimal dan betul-betul menjiwai peran yang dia mainkan. Emosi yang dia ungkapkan betul-betul tulus keluar dari dalam dirinya. Kalau dia marah, dia “sungguh-sungguh” marah. Kemarahan yang sungguh-sungguh itu akan terlihat indah dan mengesankan di kamera maupun panggung teater. (Bandingkan teknik akting dalam seni peran klasik, di mana sang aktor mencoba menyampaikan perasaan dan emosi tokoh yang dia perankan dengan piranti eksternal, misalnya intonasi suara, gesture dan ekspresi wajah. Jika tidak benar-benar digarap dengan baik, metode klasik ini akan menyuguhkan drama yang artifisial dan kelihatan dibuat-buat serta overacting).
Menerapkan Method Acting, sang aktor mencoba betul-betul “menjadi” tokoh yang dia perankan, sehingga emosi, gaya, lagak lagu, tingkah laku maupun caranya mengekspresikan sesuatu betul-betul asli sesuai dengan karakter tokohnya. Misalnya, sama-sama marah, tentu berbeda cara mengungkapkannya antara presiden, mafioso, nelayan, professor, tukang batu atau psikopat. Dalam film Analyze This, waktu Robert de Niro yang memerankan gembong mafia yang lagi konsultasi kejiwaan diminta oleh Billy Crystal (sang psikoanalis) menyalurkan kemarahannya dengan memukul bantal, dia malah menembaki bantal itu. Kenapa? Karena itulah cara yang dikenal seorang mafioso untuk mengungkapkan emosinya: apa-apa main tembak, dor duluan minta maaf belakangan.
Untuk bisa menerapkan Method Acting dengan sempurna, seorang aktor kudu benar-benar mengenal seluk-beluk tokoh yang dia mainkan sampai sedetail mungkin. Misalkan statusnya (pelajar, mahasiswa, seorang istri/suami, lajang, dan sebagainya). Terus profesi dan jabatannya. Lantas ciri khusus tokoh seperti fisik, tingkah laku, kebiasaan. Latar belakang tokoh juga kudu dipahami, baik itu latar belakang keluarga, budaya, ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya.
Karena itu aktor yang baik biasanya melakukan riset yang mendalam terhadap tokoh yang akan dia perankan. Waktu diminta main di film Rainman besutan sutradara kenamaan Barry Levinson, Dustin Hoffman yang ketiban peran sebagai jenius penderita autis savant melakukan riset mendalam tentang penyakit autis, juga menemui dan berteman dengan penderita autis beneran bernama Joseph, serta mempelajari dua film dokumenter tentang Joseph termasuk potongan-potongan film yang digunting editor.
Robert de Niro sampai mencari SIM khusus taksi dan setiap malam selama beberapa minggu mengemudi taksi di jalanan New York supaya bisa pas memerankan Travis Bickle, seorang penderita depresi yang menjadi sopir taksi malam karena mengidap insomnia kronis. Dia juga pergi ke barak tentara di Italia bagian Utara dan merekam dialek penduduk lokal untuk mempelajari dialek tokoh Travis Bickle ini.
Rumit ya? Memang tidak gampang jadi aktor atau aktris yang baik. Tidak cukup bermodal indo saja.
Kembali ke pelayatan yah
Saya jelas-jelas tidak mungkin menghibur dan menenangkan ibu itu. Jadi saya cuman mati gaya dan pura-pura sibuk dengan membetulkan letak kursi yang sudah rapi jali, menggeser ke situ dan mengembalikannya ke sini lagi, mencoba mikrophon yang sudah pas volumenya, dan ketika ada beberapa orang yang kasak-kusuk mau ambil keranda langsung ituuuuttttt!
Saya tak pandai mengucapkan salam
Tapi, karena ini kesempatan yang maha penting, maha indah lagi maha mulia, saya memberanikan, menguatkan dan memaksakan diri juga untuk mengucapkan:
Selamat menjalankan ibadah puasa.
Semoga di bulan suci ini, dicerahkanlah akal budi kita, dikembangkanlah kesadaran kita, dikuatkanlah kemauan kita untuk selalu menjaga kebersihan diri, kesucian pikiran, kemurnian hati, dan kesempurnaan akhlak.
Amin….
Rujukan:
- Method Acting | Wikipedia
- Taxi Driver | Wikipedia
- Rainman | Wikipedia
- Rikrik El Saptaria, “Acting Handbook: Panduan Praktis Akting untuk Film dan Teater,” Rekayasa Sains, 2006.


Malem sobat……Ini nggak di warnet, blog di kau di apain sih….sekarang aku bisa koment tanpa ke warnet..
Sukses selalu bang……
mengucapkan salam kya penting deh, sperti jabaran postingan mas diatas
@ bujang: ndak sengaja loh bro
@ kucrit: lah kalo langsung nanti pendek sekali bro postingannya wakakak, selamat menjalankan ibadah puasa juga…
@ esha: bener mas, yang penting niat kita tulus. biar kata2nya sederhana pasti diterima dg tulus pula.
@ quinie: wekekekek….trims daftarnya. saya catet buat jaga2. tp yg bagian nikah koq ad jgn lupa ceritanya? ntu cerita dewasa kali ya qiqiqi..
@ Deyn: wakakakak…..nekad kakakmu bro!
@ Zippy: betul bro, kayanya itu yg terbaik. selamat berbuka juga hehehe….
@ a-chen: ndak diapa-apain tuh bro? aneh jg, soalnya punya mas buwel jg dah bisa komen ke sini tanpa k warnet
@ buwel: malam bro
ucapkanlah salam setiap hari….