Ketika Burung Merak Terbang ke Sarangnya

August 7, 2009
by lagi usil

Ws_rendraTidak tahu juga apakah merak termasuk burung terbang atau burung berjalan seperti kasuari dan burung onta. Judulnya dibuat seperti itu biar nampak keren saja.

Saya menghargai meski tidak sangat mengagumi puisi-puisi Rendra. Tetapi, Rendra membaca puisinya di atas panggung merupakan keutuhan sebuah masterpiece yang susah dicari padanannya. Sihir yang tercipta saat dia menghadirkan kata demi kata, bait demi bait puisinya dengan penghayatan yang tak tertandingi, penjiwaan seorang dramawan sejati, dan ketulusan sesosok pribadi yang mencintai bangsanya sungguh nyata dan mencerahkan serta tidak untuk dilewatkan.

Sayang sekali saya tidak diganjar kemewahan untuk lahir lebih awal supaya bisa secara langsung menikmati sihir itu di atas panggung puisi, saat Rendra sedang berada pada puncak kualitas keaktorannya. Namun saya cukup beruntung sempat menonton salah satu pentas pembacaan puisinya di GSP UGM, beberapa tahun lalu.

Rendra yang membaca puisinya dengan lantang, ditunjang olah vokal yang matang dan gesture yang bermotif dan terukur, mampu menghadirkan ruh dan semangat yang terkandung dalam setiap bait puisinya. Waktu itu sound sistem sempat terganggu dan mati selama beberapa menit. Namun aksi panggung Rendra tidaklah terganggu. Justru saat itulah kualitas keaktoran si burung merak menampilkan jati dirinya. Suaranya tetap nyaring tanpa berteriak, artikulasinya jelas, seperti diserukan tepat di telinga dan hati kita.

Menarik juga membandingkan penampilan puitis Rendra saat itu dengan aksi panggung di zaman keemasannya, seperti terekam dalam film “Yang Muda Yang Bercinta” karya alm. Sjumandjaja (sempat dilarang edar oleh rezim orde baru, entah karena puisi-puisinya yang memerahkan kuping atau lantaran ada konten dewasanya antara lain Poppy Dharsono lupa pakai baju pas renang serta adegan ciumnya dengan Yatie Oktavia yang penuh penjiwaan).
Sajak Sebatang Lisong – Rendra

Rendra muda adalah Rendra yang garang, meledak-ledak, bertenaga dan lantang mengkritisi ketidakadilan dan menyerukan keadilan. Gesturenya lebih ekspresif,  serabutan ke sana kemari dan spontan. Rendra sepuh adalah Rendra yang dewasa, vokalnya lebih matang,  empuk dan terjaga meski tidak sekuat dulu, aksi panggungnya lebih teaterikal dan kaya ide namun terukur dan tertata.

Banyak yang lebih mengenal Rendra sebagai penyair. Heran saja, karena “predikat” sesungguhnya lebih lengkap dari “sekedar” seorang penyair. Karyanya bukan hanya puisi namun juga naskah drama (karya asli maupun terjemahan), dan essay-essay budaya. Rendra adalah seorang dramawan besar (aktor, sutradara, penulis skenario, produser teater) yang boleh dianggap sebagai ikon teater Indonesia. Dengan Bengkel Teaternya, dia termasuk salah seorang perintis teater modern di Indonesia.

Bakat seninya sudah kentara sejak mula. Skenario pertamanya berjudul “Kaki Palsu” ditulis saat ia masih SMP. Waktu duduk di bangku SMA, dia menulis naskah lainnya berjudul “Orang-Orang di Tikungan Jalan”, yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.

Lagi-lagi, karena beda generasi, saya tidak kebagian kesempatan menyaksikan Rendra menebar pesona di panggung teater tanah air di masa jayanya. Tapi, lagi-lagi lantaran beruntung, sempat juga saya menyaksikan monolognya berjudul “Kereta Kencana” yang dipentaskan keliling nusantara, salah satunya di Purna Budaya Jogjakarta.

Kabarnya kemampuan akting seorang aktor khususnya teater paling teruji saat dia berpentas monolog. Dan sekali lagi Rendra membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor besar negeri ini. Bermonolog sendirian (ya eyalaah) selama hampir dua jam, Rendra yang di beberapa adegan kecil melibatkan Ken Zuraida (istri, seniman teater juga) sukses memukau penonton, membuat mereka tak beranjak, bergerak bahkan hampir tak bernapas sepanjang pertunjukan. Saat pertunjukan selesai dan Rendra serta Ken Zuraida membungkuk menyampaikan salut, penonton seakan tak rela dan tak percaya bahwa pertunjukan telah rampung.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka, tidak banyak pelaku teater Indonesia bisa menghadirkan pesona yang setara. Apalagi dalam aliran teater realis-konvensional yang dianut Rendra. Untuk membuat pertunjukan lebih menarik dan mengundang respon penonton, seringnya mereka terjebak menghadirkan adegan dan dialog lucu di sana-sini.

Ada juga yang langsung menyelam ke kolam teater alternatif (hayah metaforanya maksa). Azwar AN, seniman Jogja yang mantan anggota Bengkel Teater sempat pula menyentil kecenderungan itu. Bagaimana bisa mengolah dan menciptakan alternatif, wong yang konvensional saja belum menguasai. Untuk bisa bikin alternatif, harus tahu dulu dong apa yang dialternatif-i.

Salah satu kualitas utama yang dituntut dari seorang aktor adalah ketulusan. Beraktinglah dengan tulus, dengan penjiwaan, dengan hati. Tertawa dengan tulus, menangis dengan tulus, marah, sedih, mengutuk, mencibir, meledek, memuji dengan tulus. Bermain drama kalau tidak tulus cuma bikin capek pemainnya sendiri maupun penonton. Tanpa penjiwaan, tanpa ketulusan, hasilnya tak lebih dari opera sabun.

Sayangnya itulah yang terlihat di kebanyakan sinetron Indonesia: tiada ketulusan dan penjiwaan. Sinetron kita hiruk-pikuk dengan akting yang dibuat-buat dan lebay, tanpa penjiwaan. Tangis mereka menyebalkan. Tawa mereka memuakkan. Kemarahan mereka menggelikan. Kualitas mereka menyedihkan.

Sinetron kita seperti pameran akting zaman prasejarah yang miskin ekspresi. Tahu kan, manusia prasejarah yang masih dekat-dekat ke primata, ekspresinya masih sangat terbatas dan lugas. Kalau gembira, mereka meringis. Kalau menarik pasangan, mereka meringis.  Kalau marah dan menakut-nakuti mereka meringis juga. Pas mengusir binatang buas, mereka berhah-huh. Waktu memanggil anaknya, mereka berhah-huh juga.

Miskin ekspresi, dan malas menggali ide.

Jangan salah, belajar akting tidak lebih gampang dari belajar fisika. Aktor yang baik kudu rajin, cerdas dan kreatif. Kecerdasan dan kreatifitas diperlukan untuk mencari dan menemukan berbagai alternatif mengekspresikan suatu emosi. Misalnya, marah kan tidak harus melotot, menggebrak meja dan berteriak. Batuk kan tidak musti uhuk-uhuk sambil tangan mengepal dan didekatkan ke mulut. Ketemu dengan orang tercinta kan tidak selalu berupa berseru memanggil nama masing-masing, lari menghampiri lantas saling berpelukan.

Marlon Brando, aktor legendaris dan salah satu ikon perfilman Hollywood, terbilang jenius dalam menemukan bentuk-bentuk ekspresi ini. Coba lihat aktingnya di The Godfather. Simak bagaimana dia mengekspresikan kesedihannya saat melihat mayat anak sulung dan calon pewarisnya Santino (diperankan James Caan) yang jenasahnya penuh luka bekas peluru musuh-musuh keluarganya. Ada dia menangis meraung-raung? Tidak kan.  Juga saat memimpin rapat antar keluarga mafia, dan di berbagai kesempatan di mana dia harus menunjukkan otoritasnya sebagai kepala keluarga mafia yang paling disegani. Apa dia melotot, berteriak, menggebrak meja? Tidak kan? Dia memilih bentuk ekspresi yang sama sekali beda. Dan dia berhasil menghadirkan atmosfer otoritas yang luar biasa kuat dan mencekam dalam sosok yang gemuk dan tua,  gerak tangan yang lemah, suara yang sengau dan tidak jelas, raut muka, kerut dahi dan gerak bibir yang tepat dan terkendali.

Masih Marlon Brando, simak juga ketulusannya saat bermain dan menakuti cucunya dengan buah jeruk dan waktu anak itu menangis buru-buru menenangkannya, dalam adegan-adegan akhir menjelang kematiannya. Demikian pas. Demikian tulus. Demikian wajar dan nyata.

Miskin ekspresi, malas menggali ide dan tanpa takaran.

Dalam bukunya berjudul “Tentang Bermain Drama”, Rendra juga menekankan pentingnya takaran dalam mengungkapkan emosi. Takaran penting untuk membangun dan menjaga dinamika pertunjukan. Klimaks yang mengesankan dan memukau dicapai dengan perencanaan dinamika yang cermat dan matang, serta pelaksanaan yang  cerdas dan disiplin.

Sayang, nampaknya kebanyakan bintang sinetron kita belum membaca buku itu. Jadi mereka sering berakting tanpa takaran. Semua maksimal. Semua memuncak. Semua kencang. Semua “total football”. Marah karena sandalnya hilang sama takaran dengan marah karena istrinya dibunuh.  Sedih karena kehilangan coklat sama menyayatnya dengan sedih karena kehilangan anak.

Akibatnya, alih-alih dinamis dan menarik, sinetron kita sekedar gemuruh, hiruk-pikuk, penuh teriakan amarah, ketakutan dan kebencian yang lebay. Bising tapi bikin oahheeemmmm. Saya pernah nyoba nonton sinetron semacam itu di Indo***r (hayahh disensor :) ). Bosan dengan penampilannya, saya coba mencermati musiknya saja. Gubrakkk! Ternyata musiknya pun tidak lebih mendingan. Musiknya juga sekedar gemuruh dan berjejal-jejal, penuh suara keyboard yang menghentak-hentak ndak karuan.

Hmm, sudah banyak ya? Saatnya ditutup :)

Semoga kepergian Rendra tidak menandai matinya jagad akting yang bermutu di negeri ini. Semoga warisannya di bidang seni dan budaya dapat ditemukan, dihargai dan dipelajari lebih banyak pelaku seni di negeri berbudaya ini.

Rendra, selamat jalan

tiba saatnya untuk kembali

terbanglah dengan damai

pulanglah ke pangkuan ibu pertiwi

yang sangat mencintaimu dan sangat kau cintai

istirahatlah dengan tenang

di bawah rindangnya pohon Gandaria….

Rujukan:

11 Comments

  • buwel says:

    pertamakah diriku ini….semoga…

  • kucrit says:

    seandainya ku tahu nama Rendra dari dulu.. ku pasti menjadi pengagumnya saat itu.. namun, pengetahuan ku yang sempit membuatku tak mengenalnya… betapa hati ini menyesal tak kenal sang merak dari dulu… kini ku hanya bisa menikmati karya-karyanya.. selamat jalan rendra.. selamat sampai surga…
    (hayah.. ngumung upu crit..)
    sory bro lebih jelasnya.. saya tahu rendra dulu itu cuma sebuah nama.. yang biasa saja.. setelah beliau wafat ini baru merasa kagum dengan karya luar biasanya.. sumprit ulasan sampean itu membuatku ngiri.. pengen nulis seperti itu..bahasanya renyah, simpel, enak dibaca pas sama objek dan ndak ngawur.. ekekekekeke..
    waw… panjang banget kayaknya omelannya.. hak hak hak hak hak..

  • buwel says:

    wooooowwwww muantabbbbb surantab…….siiiiiipppp Bro……Secara buwel juga nggak begitu ‘dekat’ dengan si burung merak ini, daaannn Bro udah membuat buwel banyak tahu tentangnya….
    dan setuju juga, tadi buwel lihat di tv one….woooowwww mbaca puisinya kerennnn buangettttsss yak almarhum…..
    hmmmmmmm…..akhirnya turut berduka cita….semoga Rendra bahagia di sana…

  • quinie says:

    may he rest in peace.
    hehehe.. sori dah malem nich… rada ngantuk. jadi komennya pendek ajah :)

  • semoga amal ibadah beliau diterima…
    dan beliau mendapat tempat yg terbaik..

  • ozym says:

    sang pujangga telah kembali ke surga..
    semoga amal baiknya diterima…
    dan karyanya pasti akan selalu dikenang manusia sejagad raya..

  • lagi usil says:


    @ buwel: hehehe…. trimakasih bro :) begitulah kalo dramawan sejati baca puisi. kalo sempat dapet VCDnya YMYB musti ditonton bro. di sana banyak adegan pas Rendra baca beberapa puisinya.
    @ kucrit: trims bro kalo suka dengan review ini hehe…. kucrit juga sip cara nulisnya. khas n punya jati diri, gampang keciri kalo itu yg nulis kucrit. mantap bro!
    @ quinie: yaelah, jam segini dah ngantuk? pasti bawaan bayi tuh qiqiqi….
    @ MJDB: aminn…..
    @ ozym: amin, amin… selamat atas diluncurkannya blog barunya. pk blogspot lagi ya?

  • Aisha says:

    semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah amin…

  • dini says:

    Assalamualaikum,
    He2 mampu g ya kita seperti Rendra?
    Ketika tubuh ni dah g da, tapi nama kita tetap d kenang dengan karya2 yang manggungah, huf….
    bisa g ya :(

  • tulisanmu yang ini bagus banget
    aku jg penggemar Rendra, walau bukan fanatik

    soalnya syairnya dia kuat :)

  • selamat tinggal bung rendra…!!
    hix..hix..hix.
    :(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*