A Warning from History
Dua hal yang nyantol di pikiran kalau kita ngobrol tentang Hitler adalah The Third Reich (Kekaisaran Ketiga) yang katanya akan bertahan seribu tahun, dan kamar-kamar gas atau kamp konsentrasi tempat dia membasmi jutaan orang. Adolf Hitler adalah kutukan bagi umat manusia. Bercokolnya dia di puncak kekuasaan Jerman dengan Partai Nazi-nya, dan segala sepak terjangnya khususnya dekade 30-an sampai 40-an merupakan lembaran paling hitam dalam sejarah dunia modern.
Lembar-lembar peristiwa paling suram itu dikisahkan dengan lengkap dan terinci berdasarkan investigasi mendalam dan meluas dan meliputi seluruh aspek, dalam film dokumenter produksi BBC ini.
Judul lengkapnya “The Nazis: A Warning from History”. Terdiri dari enam episode yang terekam dalam dua keping DVD, film ini meliput dengan tajam, jelas, lengkap dan terstruktur rapi segala seluk-beluk mengenai sepak terjang Hitler, Nazi, kondisi Jerman dan dunia secara umum pada masa itu.
Keping pertama berisi tiga episode: Helped into Power, Chaos and Consent, dan The Wrong War. Tiga episode lainnya di keping kedua bertajuk The Wild East, The Road to Treblinka, dan Fighting to the End.
1. Helped into Power
HiP menyigi latar belakang sejarah yang mengantarkan partai ini ke puncak kekuasaan. Mulai dari jatuhnya harga diri bangsa karena kalah dalam PD I, inflasi yang meroket, serta demiliterisasi besar-besaran, yang menyebabkan Hitler dan partai yang mengusungnya mendapat dukungan luas terutama dari masa mengambang.
2. Chaos and Consent
Bagian ini menggambarkan betapa kacaunya sistem dan tata kerja pemerintahan yang dipimpin Hitler, meskipun di permukaan tampak sangat teratur dan tertata yang digambarkan dengan simbol-simbol, prajurit yang berbaris rapi, parade-parade dan sebagainya. Para pucuk pimpinan partai menghabiskan sebagian besar waktu kerja mereka untuk saling sikut dan saling jegal dan bukannya mengurus negara. Sebagian besar pertikaian internal ini dipicu oleh Hitler sendiri.
Di bagian ini digambarkan pula salah satu kebijakan Hitler yang tergolong paling sadis dalam sejarah; sulit seorang pemimpin yang beres otaknya bakal menelorkan kebijakan semacam ini. Hitler memerintahkan pembunuhan (pemusnahan) masal terhadap penduduk Jerman yang cacat mental (sebagian besar anak-anak). Hal ini dipicu oleh surat seorang ayah kepada Hitler, meminta restunya untuk meng-eutanasia anaknya yang terbelakang mentalnya (ini anaknya atau bapaknya yang cacat mental sih?).
3. The Wrong War
The Wrong War mengulas dimulainya PD II, dan bagaimana hal itu berkembang menjadi perang yang sesungguhnya tidak diingini Hitler sendiri. Dia sebenarnya tidak ingin terlibat permusuhan dengan Inggris Raya yang dikaguminya karena sangat baik dalam mengendalikan wilayah jajahannya yang luas, meskipun rakyatnya sendiri sedikit jumlahnya.
4. The Wild East
Episode ini meliput dan mengupas perlakuan brutal Nazi terhadap bangsa Polandia. Polandia merupakan salah satu bangsa di luar Jerman yang paling menderita dalam perang itu. Satu dari lima orang Polandia tewas terbunuh. Nazi telah melakukan tindakan pembersihan etnis paling brutal dalam sejarah. Ambisi Hitler adalah memasukkan Polandia dalam wilayah Jerman, sebagai bagian dari rencana besarnya untuk membentuk Jerman Raya yang memiliki wilayah kekuasaan tak terbatas.
5. Road to Treblinka
Treblinka II adalah kamp pemusnahan masal berada di wilayah pendudukan Polandia. Sekitar 850 ribu orang dibunuh di kamp itu dengan gas beracun, antara Juli 1942 sampai Oktober 1943. Sedangkan Treblinka I disiapkan untuk kamp kerja paksa untuk mendukung operasional kamp maut itu. Episode ini terutama juga menceritakan sepak terjang Einsatgruppen, pasukan pembunuh gerak cepat yang bertanggung jawab terhadap sebagian besar pembunuhan masal itu.
6. Fighting to the End
Mengambil setting tahun 1943 sampai akhir PD II, episode terakhir ini mengisahkan Italia yang sebelumnya bersekutu dengan Jerman, setelah menggulingkan Mussolini dan mengangkat kembali raja mereka ke tampuk kekuasaan, akhirnya menyerah kepada sekutu dan berbalik melawan Jerman. Juga tentang sejumlah besar orang Polandia yang dibawa ke Jerman untuk dijadikan budak, orang-orang yang dibunuh di kamp konsentrasi, percobaan pembunuhan terhadap Hitler oleh anak buahnya sendiri, perang bunuh diri Jerman yang berakhir pahit, dan akhirnya pendudukan Jerman oleh Tentara Merah.
Pelajaran yang bisa dipetik dari film dokumenter ini benar-benar harus dianggap sebagai peringatan dari sejarah. Dewasa ini banyak yang menganggap itu tak akan terjadi lagi, dan tidak mengerti kenapa hal itu terjadi pada masa itu. Namun seperti digambarkan, Hitler tidak datang – meraih kekuasaan – memicu perang dunia – melakuan kekejian tanpa batas di sana sini dalam semalam. Ada latar belakang sejarah, kondisi, sikap rakyat dan pendeknya penyebab yang melicinkan perjalanan itu.
Lima puluh lima juta orang tewas dalam PD II. Dari Rusia saja ditawan 5 juta orang, dan hanya 2 juta yang selamat. Selama perang, Hitler mengesahkan kebijakan yang tiada duanya dalam sejarah: pemusnahan terorganisir seluruh bangsa, karena Hitler percaya bahwa hanya bangsa jenis unggul seperti bangsa Jerman-lah yang layak dibiarkan hidup di dunia ini. Jargonnya yang terkenal adalah Deutzland Uber Alles. Memang nasionalisme yang berlebihan (disebut chauvinisme) dan keblinger seperti ini bisa sangat berbahaya.
Bagaimana mungkin suatu negara berbudaya di jantung Eropa, membiarkan orang seperti itu berkuasa? Seperti digambarkan, Hitler dibantu (tanpa tanda petik) oleh gabungan kondisi Jerman yang terpuruk secara ekonomi, hancurnya harga diri bangsa akibat kekalahan dalam PD I, serta para prajurit yang marah karena gencatan senjata yang terlalu cepat padahal mereka belum merasa kalah.
Adolf Hitler sendiri adalah seorang yang berkepribadian kuat. Visinya yang radikal, nasionalismenya yang berlebihan dan kemampuan orasinya yang menggelegar membakar massa mempesona rakyat yang sedang rapuh secara fisik, mental maupun sosial pada masa itu. Hitler sukses dalam mencekoki rakyat tentang buruknya pemerintahan pada masa itu (yang sedikit banyak memang benar). Dia menjanjikan perubahan yang ambisius meskipun gagap ketika ditanya detail rencana kebijakannya jika berkuasa. Dia hanya mengatakan akan melakukan perubahan dan perbaikan menyeluruh dari dasar sampai puncak, dari atas sampai bawah.
Vox Populi Vox Dei
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Karena itu rakyat jarang sekali salah pilih. Dalam kondisi normal, suara rakyat biasanya tepat. Terpilihnya Hitler dan partainya ke puncak kekuasaan Jerman merupakan salah satu contoh salah-pilih paling fatal dalam sejarah modern.
Jika saja rakyat Jerman pada saat itu dalam kondisi normal (atau tidak terlalu parah), tentulah rakyat bisa melihat dibalik pidato Hitler yang berapi-api dan menggelegar itu tersembunyi ambisi pribadi yang berlebihan dan bahkan tidak bisa dikendalikan dirinya sendiri. Bahwa dia tidaklah memikirkan nasib mereka tapi memikirkan bagaimana memanfaatkan mereka untuk mencapai ambisi gilanya. Pandangan tajam dan peka akan melihat kepuasan Hitler setiap kali pidatonya bisa menggerakkan antusiasme massa.
Hitler adalah sosok yang mempesona dengan visi keblingernya dan keyakinannya yang sangat kuat bahwa visinya benar. Saking kuatnya sampai dia bisa menularkan keyakinan itu pada jutaan rakyat Jerman. Kemampuan orasinya hampir tiada duanya dalam sejarah. Memang para diktator biasanya orator handal. Fidel Castro, diktator Cuba yang berkuasa puluhan tahun pernah dikenal sebagai orator nomor satu di seluruh dunia.
Sosok semacam ini biasanya akan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya. Karena antusiame dan emosi massa mudah tergali dengan membangkitkan naluri agresif mereka, para pemimpin-orator ini biasanya akan menciptakan musuh bersama yang bisa dibenci dan disalahkan bersama. Musuh bersama ini berupa bisa paham yang tidak sejalan, kebijakan yang sedang berjalan, maupun lawan politik.
Tetapi zaman sudah semakin modern dan rakyat semakin cerdas. Kemampuan berorasi dan beretorika yang luar biasa merupakan senjata pokok pemimpin pada masa lalu. Tapi sekarang itu bukan faktor utama lagi. Rakyat lebih realistis dalam menilai rencana kebijakan dan janji-janji yang terlontar dalam kampanye. Rakyat tidak akan tergoda lagi dengan janji-janji kosong yang tanpa didasari pemahaman mendalam tentang kondisi dan potensi yang ada saat ini, yang bahkan secara logika pun bakal sangat sulit terlaksana.
Vox Populi Vox Dei
Karena itu rakyat jarang sekali salah pilih. Semoga rakyat Indonesia tidak salah pilih.
Selamat nyontreng
Rujukan:
- “The Nazis: A Warning from History” (episode 1 – 6), produksi BBC tahun 1998.
- Wikipedia.org
- “The0 Death of Adolf Hitler”, karya Agustinus Pambudi, terbitan Penerbit NARASI.
Comments (28)





luar biasa hanya itu yang bisa saya katakan untuk komentar saya… sukses bro selamat nyontreng juga ya bro
luar biasa, ya memang pak usil kebanyakan hanya janji-janji doang. selamat menyontreng
Hal-hal yang seperti diatas itu yang perlu digaris-bawah… ya nggak??? he..he..he..
ga tau deh mau ngomong apa, anda memang jagonya review mas, sepertinya anda termasuk orang yang teliti sekali, sukses selalu mas, thanks sdh nyempatkan mampir ditempat yang baru
bener banget, selamat menyukseskan pemilu
salam kenal
itu bukunya udah dibaca sampe abis??
)
reviewnya keren
dipas2in sama pemilu
Waahh, keren banget reviewnya! Manstabbb!!!
Jadi mau nonton
kunjungan rutin boss.
Oh ya, mau nyontreng yang mana nich? Jangan sampai salah pilih. Kalau aku kayaknya mau nyontreng semua gambarnya saja nich dari pada bingung mikir omongan para capres.
mantab abiz reviewnya bro.Saya juga tertarik dengan sejarah-sejarah lama.Terimakasih kunjangannya.Saya link ya bro.
selamat menyontreng.jangan salah pilih ya heheh
nice….info…
thanks
semoga sosok hitler yang negatif tidak mengotori sosok calon presiden kita nantinya, selamat menyontreng sobat.
The Nazis apanya Narsis yah ???
yeah, vox populi vox dei. dengan kata lain manusia indonesia sendirilah yang harus memutuskan apakah yang akan memerintah itu orang ber-tuhan atau bukan, yang membawa bangsa indonesia kepada kemajuan dan masa depan yang lebih cerah. pemilih kita sekarang sudah cerdas, bahkan lebih cerdas dari capres/cawapres
wow, sya harus beli nih DVDnya… soalnya sya suka ma sjarah2 gini,, trutama si hitler yg bner2 kntroversial. Kalo bleh sya blang dia memang gila… heheheheh
@ alfon: thanks bro
@ belajar internet marketing: iya mas, namanya kampanye pasti dibumbui janji2..
@ rudi azhar: haha bener juga. kalo kebangetan mending digaris coret mas
@ Bisnis Online Indonesia: jadi maloe….lagi belajar juga. sukses juga mas, wah banyak banget situsnya
@ dini: hihi, iya semoga sukses n aman damai. salam kenal juga
@ macangadungan: kalo bukunya dah abis, ga gitu tebal kok. filmnya ntu yg lama.
iya dipas2in memanfaatkan momen (hayahhhhh)
@ Yanti: thanks mba’. iya seru banget loh, apalagi yang 3D hahah…
@ Blogger Sragen: weitt jangan semua bro, nanti ndak sah. kalo bingung jongkok dulu hehe….
@ Aisha: hihi, suka sejarah juga toh? thanks linknya, slamat nyontreng juga
@ nur ichsan: ah yang benerrr…..
@ bidikcom: semoga bro, agar bangsa ini terhindar dari malapetaka (hayahhh)
@ AlvienRizki: sodara jauh bro
@ haris: setujaa….
wahahah bener juga, capres kok kalah cerdas ama pemilihnya….
@ Ardi Pratama: bener mas, pokoknya kalo hobi sejarah trutama yg kontroversial, nonton film ini wajib hukumnya
hmmm….tokoh kontroversial memang selalu menarik untuk direview.
Semoga sejarah bisa menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk bisa memilih pemimpin yang terbaik bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Met nyontreng dan salam kenal kembali ya…:)
jadi pengen ngeliat pilemnya nih… repiewnya mantab sekali sob… saya seneng sekali bacanya..
semoga saja.. sosok hitler yang kejam tidak menular pada calon pemimpin bangsa kita ini, meski dengan menggunakan cara yang berbeda dan lebih halus..
salam hangat sobat..
Tapi nyatanya, hasil pilpres 2009 ini membuktikan, bahwa mayoritas rakyat Indonesia masih kurang peka (kalau tidak mau dikatakan buta mata hatinya) dalam menilai penampilan sosok capres pilihannya.
Pemimpin terpilih adalah cerminan mayoritas rakyatnya. Itu sudah karma atau jodoh. Masyarakat yang dominan munafik, bermuka dua, kalo bicara suka dibuat-buat demi pencitraan semu (kamuflase), pendendam, dan mahir beretorika, akan menghasilkan sosok pemimpin yang tidak jauh berbeda. Kaum minoritas yang jauh lebih peka dan lebih terbuka mata hatinya jadi terpinggirkan.
Wahai masyarakat Indonesia, janganlah mudah terbuai dengan pencitraan semua. Pilihlah sosok pemimpin yang benar-benar tulus (baik itu bicaranya, senyumnya, itikadnya untuk berpihak pada rakyat kecil, visinya untuk membangun Indonesia dari keterpurukan, dan yang terpenting adalah tekadnya yang kuat untuk bisa lepas dari pengaruh asing dan membuat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri-bermartabat).
Tapi saya tetap menghargai hasil yang ada sekarang. Tapi jika ada yang mengatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, itu terlalu bulsit dan terlalu sombong menurut saya. Mayoritas masyarakat kita saat ini masih terlalu terpengaruh oleh faktor ketokohan dan kesantunan semu. Mereka sepertinya kurang menyukai capres yang dinilai suka “menyerang” kandidat lain. Padahal itu biasa dalam demokrasi untuk pendewasaan dan mengungkap sesuatu yang mungkin selama ini terkesan dikaburkan.