Di awal deklarasi, pasangan ini sedianya akan menggunakan julukan SBY Berboedi yang maksudnya SBY bersama Boediono. Tapi lantaran dalam bahasa Oku (Ogam Komirin Ulu, Palembang, Sumsel), berbudi artinya berbohong, pasangan ini batal menggunakan jargon itu dan back to basic jadi SBY-Boediono. (Sebenarnya berbudi tidaklah berarti berbohong. Budike, baru berbohong artinya).
Apalah artinya sebuah nama atau jargon, yang penting kinerja dan keterlaksanaan janji-janji yang disampaikan pas kampanye nantinya kan?
Memilih Boediono sebagai wakil, SBY menempuh resiko cukup besar dan menghadapi tantangan lumayan kuat dari berbagai pihak terutama partai-partai yang berkoalisi dengan Demokrat. Tiga alasan yang kuat mengemuka adalah:
- Boediono tidak mewakili partai manapun, kenapa pula tidak mengambil salah satu pemimpin dari partai-partai anggota koalisi?
- Boediono dalam kebijakan-kebijakannya selama ini dianggap menganut paham neoliberalisme, paham yang menurut Wikipedia artinya menyerahkan kendali perekonomian sepenuhnya kepada pasar dan meminimalisir peran negara dalam tata laksana perekonomian.
- Boediono dianggap lebih bermanfaat sebagai menteri di lingkungan perekonomian disebabkan tangan dinginnya dalam mengurusi perekonomian Indonesia. Sampai-sampai beberapa teman dekatnya menyebut Boediono sebagai “the man to get the job done”.
Soal neoliberalisme dibantah SBY maupun Boediono sendiri dengan cukup cerdas dan santun dalam berbagai kesempatan. Dalam pidato kampanye pertamanya, SBY mengemukakan baik pemerintah maupun pasar seyogyanya diberikan peran yang patut dalam sistem ekonomi. Tidak bisa pemerintah saja atau pasar saja yang mengendalikan jalannya perekonomian. Alih-alih menerapkan paham neoliberalisme, SBY lebih memilih sistem ekonomi jalan tengah, di mana negara maupun pasar masing-masing memiliki peran dalam aktivitas perekonomian.
Dalam memilih Boediono sebagai wakil, nampaknya SBY mencoba belajar dari pengalaman terdahulu, bahwa lebih baik memilih wakil presiden yang sungguh-sungguh mampu dan bisa bekerja sama dalam menjalankan pemerintahannya daripada memilih wakil yang dianggap merupakan representasi partai atau organisasi lain yang dianggap memiliki jumlah massa yang besar. Memilih pemimpin organisasi bermassa banyak tidaklah menjamin tingkat keterpilihan seorang calon presiden. Kita mungkin masih ingat tahun 2004 lalu, di mana Megawati memilih Hasyim Muzadi, ketua NU yang siapa menyangkal memiliki jumlah massa puluhan juta. Nyatanya strategi itu tidak memberikan hasil sesuai harapan.
Belajar dari pengalaman pilpres 2004 pula, SBY nampaknya sadar betul bahwa dalam pilpres (bukan dalam jalannya pemerintahan loh), sosok seorang wakil presiden relatif kecil perannya dalam meningkatkan keterpilihan (elektabilitas) seorang presiden. Bahwa kualitas atau citra personal capreslah yang paling berperan. Terbukti, SBY yang diusung partai Demokrat yang saat itu “cuma” memperoleh 7% suara dan JK yang bahkan tidak mewakili siapa-siapa (Golkar dari mana dia berasal mencalonkan Wiranto – Salahudin Wahid) menangguk suara terbanyak, mengungguli Mega – Hasyim, Wiranto – Salahudin (yang diusung Golkar pemenang pemilu dengan 23% suara), Amin – Siswono dan Hamzah – Agum Gumelar.
Maka, alih-alih kemenangan dalam Pilpres, kelangsungan jalannya pemerintahan nantinya nampaknya lebih dipertimbangkan SBY dalam memilih wakilnya. Menurut beberapa pengamat politik yang dilansir Koran Tempo (20 Mei ’09), Boediono dianggap sebagai pendamping yang pas yang nantinya bakal menghasilkan pemerintahan yang kompak.
Menilik caranya memilih wakil presiden, dalam pemerintahan periode kedua ini, SBY (kalau terpilih) sepertinya bakal membentuk kabinet yang profesional, tanpa mengesampingkan peran partai-partai anggota koalisi. (Bandingkan dengan kabinet pelangi kemarin yang lebih mengedepankan representasi dari partai-partai pendukung).
Mungkin karena periode kedua yang merupakan periode terakhir, SBY sepertinya ingin memfokuskan diri untuk memilih sistem ekonomi, sasaran, kebijakan dan anggota kabinet yang dipandang paling tepat untuk menyejahterakan bangsa ini, dengan meminimalisir pertimbangan-pertimbangan politis misalnya dukungan dari partai-partai lain.
Dalam berbagai survey, SBY – Berboedi sering muncul sebagai pasangan dengan tingkat keterpilihan tertinggi, mengungguli kedua pesaingnya. Ini baik sekali namun bila pasangan ini maupun tim suksesnya salah dalam menyikapi, menjadi terlalu percaya diri misalnya, bisa-bisa malah jadi bumerang.
Okelah, pemilu masih tiga minggu lagi, semoga semua calon pres-wapres beserta tim suksesnya bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, meraih simpati pemilih dengan cara yang santun dan bermartabat. Lebih penting lagi semoga yang terbaik dan paling tepat bagi bangsa inilah yang nantinya diberi mandat oleh rakyat untuk memimpin bangsa ini lima tahun kedepan. Amin.


ayo sukseskan pemilu sob..
wah.. kenapa saya gak dicalonkan ya?
sudah diupdate daftarnya mas silahkan dicek di Blog Dofollow Indonesia
review capresnya boleh juga nih, benar2 memberikan info yg bermanfaat untuk semua, salut
wah, benar-benar teliti dalam me-review calon presiden dan wakilnya
bagus buat bahan pertimbangan.
ternyata blog ini cukup concern juga ya terhadap pemilu dan masa depan bangsa, sampe bela-belain ngereview capres dan cawapres.
Salut, semoga infonya cukup bermanfaat untuk menjadi acuan para pemiih
@ kir31: betul sob. menyangkut nasib bangsa soalnya
@ AeArc: wa, sudah telat bro skarang. lima taon depan yah. siapkan aja duit 1 triliun hheheh….
@ Blog DoFollow Indonesia: trims mas dah dilist blognya. hehe coba-coba review nih, lagi usil aja..
@ macangadungan: thanks apresiasinya, jgn sampe salah pilih nomor 4 yah
@ Butik Online: heheh, trims yah, semoga bermanfaat buat bahan pertimbangan..
Lanjutkan..!! siapapun pemimpinnya lanjutkanlah pembangunan bangsa ini lahir-bathin.. biar seimbang dan balance.. biar bisa “tak sengguh temanten anyar”
hhehehe.. trims dah datang.
@ xitalho: wahaha! lanjutkan bro!! temanten anyarnya itu yg penting
dari semua pasangan.. SBY-Boediono adalah pasangan paling santun. pemilihan Boediono sebagai cawapres menurut saya menunjukkan bahwa SBY lebih mengedepankan kepentingan bangsa..SBY tahu benar bahwa pilihannya akan beresiko…( tapi menjadi kurang respect juga klo sby saat ini menjadi terlalu percaya diri…hmm ..semoga saja tidak..)
yuk..kita dukung pencontrengan tanggal 8 Juli nanti..
@ ceuceusovi: iya mbak, kalo diliat dari paparan2nya, pasangan ini masuk genre optimis-realistis. belum sangat ideal tapi yg paling optimal di antara ketiganya.
bnr juga, terlalu PD membuat kita menganggap enteng saingan n bakal ga baik akibatnya. smg tidak…:)
pemilu udah usai dan udah diketahui siapa pemenangnya. pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita pikirkan masak masak pilihan kita, dan tentunya juga berdoa.