Memimpin negara sebesar ini tentulah dibutuhkan manusia-manusia unggul yang mumpuni, memiliki kapasitas sangat cukup secara fisik, mental, sosial maupun spiritual. Kelebihan fisik saja tentulah tidak berpengaruh banyak untuk mempengaruhi rakyat pemilih dalam menentukan pilihannya.
Tapi, namanya juga kampanye, boleh-boleh saja dan sah-sah saja kalau pasangan ini secara bergurau mendeklarasikan diri sebagai pasangan yang paling cantik.
Dalam pandangan tiga pengamat politik – Syamsudin Haris, Arbi Sanit dan Bima Arya Sugiarto – yang dirangkum Koran Tempo (edisi 20 Mei ’09), pasangan ini memiliki kelebihan:
- Memiliki kesan kuat berpihak kepada ekonomi kerakyatan.
- Prabowo sebagai wajah baru dalam pemilihan presiden.
- Didukung oleh kemampuan finansial Prabowo.
- Masa fanatik PDI perjuangan.
Sedangkan kelemahannya kira-kira:
- Isu pelanggaran hak asasi masih melekat pada Prabowo.
- Keterpilihan Megawati tidak pernah mengungguli Yudhoyono.
- Gaya kepemimpinan Megawati dan Prabowo yang sama-sama “keras”.
- Bila terpilih, sulit mengimplementasikan kebijakan ekonomi kerakyatan.
(Itu bukan pendapat lagi-usil loh, tapi pengamat politik yang bilang.)
Strategi kampanye pasangan Mega-Pro tampaknya tidak jauh-jauh amat dari strategi yang selama ini diterapkan oleh kedua partai politik pengusung mereka. Mereka mencitrakan diri sebagai pembela wong cilik (kurang jelas benar apanya yang cilik). Mereka menawarkan sistem ekonomi yang disebut ekonomi kerakyatan.
Faisal Basri pas diinterview Suryo Pratomo dalam Economic Challenge di Metro menyiratkan bahwa sistem ekonomi kerakyatan sebenarnya konsep yang tidak jelas. ( SBY dalam kampanyenya lebih suka menyebut kebijakan yang diidealkan ini sebagai kebijakan pro-rakyat). Kemudian juga, kalau tidak bertindak pro-pasar, dari mana mereka akan membiayai ekonomi pro-rakyat ini.
Untuk semakin menguatkan citra pro rakyat ini, sesuai dengan semangat umum kampanye politisi kita selalu berkutat pada memoles citra, pasangan Mega-Pro rajin menggunakan simbol-simbol keperpihakan pada rakyat. Misalnya mendeklarasikan diri di Tempat Pembuangan Akhir bukannya di gedung bersih dan megah. Sekali lagi, ini simbol. Suatu simbol yang mahal, karena perhelatan pro-rakyat ini menelan dana setengah milyar rupiah (untung bukan dolar hehe).
Betapapun tidak jelasnya, karena PDI Perjuangan yang terlihat konsisten berkampanye soal wong cilik dan Gerindra yang sangat intensif (dan ekstensif) berkampanye dalam Pileg kemarin, pasangan ini sedikit banyak dapat menanamkan citranya di benak pemilih sebagai pembela rakyat.
Pada waktu Pileg lalu, lagi-usil mengamati bahwa iklan-iklan Gerindra termasuk yang dibuat dengan cerdas dan menarik. Secara kemasan, kampanye-kampanye Gerindra (yang sekarang banyak diterapkan oleh tim sukses Mega-Pro) termasuk berkualitas dengan “seolah-olah” didukung fakta dan angka.
Sayangnya mereka terlalu memfokuskan energi mereka untuk berkampanye negatif alias menjelek-jelekkan lawan politik. Kampanye negatif (bukan black campaign lho ya, lain itu) sendiri sah-sah saja dan termasuk sehat dalam pemilu. Di Amrik sendiri kampanye negatif (disebut mudslinging di sono) termasuk ritual yang rutin dilakukan setiap kampanye pemilihan presiden. Tapi biasanya mereka tetap beretika dan santun dalam melakukannya, serta didukung oleh fakta sungguhan yang diverifikasi benar-benar sebelum diluncurkan.
Di sini, mungkin karena lagi euphoria kebebasan berpendapat, kampanye negatif terlihat dipakai secara berlebihan dan dimaknai berbeda. Di sini kelihatan seperti, tuduh dahulu fakta belakangan. Di sini menyampaikan pernyataan negatif tentang lawan politik tanpa disertai fakta nampaknya dianggap sah.
Satu lagi fenomena kampanye negatif yang terlalu jauh: Indonesia Democracy Watch. Kampanye-kampanye IDW di televisi mungkin merupakan salah satu bentuk “black campaign”, yang di Indonesia disebut sebagai “lempar batu sembunyi tangan”. Tanpa mengenakan baju partai maupun tim sukses tertentu, IDW “membeberkan fakta-fakta” negatif lawan politik. Ini sedikit menggelikan dan menyedihkan karena penonton yang cerdas mudah saja menebak siapa di balik baju IDW itu.
Lagi-usil sebagai calon pemilih hanya mengurut dada saja (dada sendiri loh), sambil coba mengingatkan hukum pertanian yang berlaku selamanya. Kita bakal menuai apa yang kita tanam. Kalo menanam rumput tidak bakal kita nantinya menuai padi. Terlalu memfokuskan diri untuk berkampanye negatif bisa jadi bumerang yang bakal menghancurkan simpati rakyat pemilih. Lagipula, rakyat juga bakal ragu. Gimana nantinya kalau mereka punya pemimpin yang hobinya menyalahkan pihak lain. Bisa hancur negara ini.
Masa pemilu masih tiga minggu lebih. Belum terlambat untuk memperbaiki strategi. Baiknya fokus ke kampanye positif: membeberkan dan menyampaikan keunggulan diri. Niscaya hasil terbaiklah yang akan diraih bangsa ini.


menurut saya, ibu mega saat ini tampak jauh lebih pintar daripada periode pemilu capres yang lalu, tapi tetap, beliau sulit mengalahkan sby, pendukungnya lebih karena rasa fanatisme (kepada PDIP dan Bung Karno) dan bukan pendukung cerdas..sementara pak prabowo, sebagian masyarakat tetap mengaitkannya pada kasus ‘orang hilang’ semasa pemerintahan orde baru (hanya sebagian kecil masyarakat yang tahu bahwa ia sekaligus adalah kambing hitam)…dan benar, pasangan ini tampaknya sama-sama ‘keras’, ditambah pula strategi kampanyenya yang banyak menjelekkan lawan, kurang disukai banyak orang… namun demikian, apapun dapat terjadi pada saat pencontrengan nanti.. kita harus dukung siapapun yang terpilih jadi presiden dan semoga mereka dapat menjadikan Indonesia lebih baik…
@ ceuceusovi: iya, lebih mending mbak, bicaranya jg lebih banyak
tentu yg dapat mandat besuk musti didukung sepenuhnya. karena dalam kondisi normal, pilihan rakyat itu jarang salah. vox populi vox dei, ya ga?