Di sebuah laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan suatu universitas ternama di Jakarta, sekelompok mahasiswa sedang mengikuti kelas anatomi semester ini. Itu pertama kalinya mereka masuk setelah beberapa minggu kosong akibat dosennya sedang ada kesibukan lain, dan itu adalah kelas pertama mereka.
Sang professor mengatakan, ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh seorang dokter hewan. Satu, dia harus tahan jijik. Dia tidak boleh jijik terhadap apa pun termasuk bangkai binatang yang sudah membusuk sekalipun.
Selesai berkata demikian, sang professor membuka lembaran putih yang menutup bangkai seekor sapi di meja operasi. Kemudian dia mencucukkan jarinya ke dalam anus sapi yang sudah meninggal itu (hayahh). Professor tanpa kaca mata itu lantas menarik jarinya, terus mengulum serta menjilat jari itu. *huekkkkk*
Sekelompok mahasiswa itu cuman bisa saling pandang. Ada yang membelalak kaget, ada yang mulutnya melongo, ada yang perutnya langsung mulas, tapi tak ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Tapi itu belum semuanya. Professor itu lantas berkata,
“Nah, sekarang giliran kalian. Ayo semuanya melakukan hal yang telah saya contohkan tadi. Semuanya. Laki-laki, perempuan, pokoknya yang memang pengen jadi dokter hewan, harus mempraktekkan pelajaran pertama ini.”
Beberapa menit masih belum ada yang berani mengawali. Mereka masih tetap saling pandang, dan saling memberi isyarat untuk mulai duluan. Tapi tak ada yang bergerak. Sang professor mulai gusar.
Dia lalu mengancam, “Kalau membangkang, jangan harap kalian bisa lulus di kelas saya. Dan ingat, saya tidak pernah melupakan apa pun. Saya akan tetap ingat wajah-wajah kalian meskipun kalian mengulang kelas ini tiga tahun kemudian. Saat itu, praktek pertama ini bakal jauh lebih menjijikkan.” Wohh, sadis juga nih dosen. Untung dulu enda ambil kedokteran hewan
)
Setelah mendapat ancaman yang bisa-bisa bikin masa depan suram itu, barulah mereka satu per satu mulai mencucukkan jari ke anus almarhum sapi itu dan kemudian mengulum jarinya. Prosesnya cukup lama. Mereka saling dorong-mendorong, tidak mau mendapat giliran pertama. Ada yang langsung muntah-muntah. Ada yang terus diare padahal lupa bawa diapet (eitt, jgn salah, ini bukan titipan, bukan review berbayar loh heheh). Ada yang takut flu babi tapi itu kan sapi jadi enda ada alasan. Ada yang pura-pura alergi anus sapi, tapi dokter mana bisa ditipu. Ada yang saking kesal tapi tak berdayanya sampai mengutuk sang professor biar tidak dapat jodoh selamanya. Sayang kutukannya telat soalnya professor itu sudah punya cucu.
Akhirnya, semua berhasil melaksanakan tugas itu meskipun sambil babak belur fisik maupun mentalnya *halahh lebayyy*.
Setelah semua mendapat giliran, mereka kembali berkumpul mengelilingi meja operasi. Professor meneruskan pelajarannya.
“Baik, tadi saya menyampaikan dua syarat yang harus dipenuhi seorang dokter hewan. Kalian telah lulus dan memenuhi syarat pertama. Sekarang syarat kedua, seorang dokter hewan harus memiliki pengamatan yang tajam. Kalian harus selalu memperhatikan baik-baik apa yang kalian lihat. Jangan biarkan hukum psikologi mempengaruhi kalian. Kalian harus melihat apa yang benar-benar kalian lihat, bukan apa yang ingin kalian lihat.”
Professor berhenti sejenak, lantas meneruskan, “Kalian lihat tidak, saya tadi memasukkan jari tengah ke anus sapi, sedangkan yang saya kulum adalah jari telunjuk. Jadi, belajarlah untuk memperhatikan dengan baik.”
Cerita ini merupakan fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, jabatan, institusi maupun peristiwa (kebangetan kalau ada peristiwa yang sama
), itu hanyalah kebetulan belaka dan bukan merupakan kesengajaan.


huahahaha pasti pada nyesel tuh yang dah nyobain anus sapi.. apalagi yang sampai diare
huahaha… gokillll. kalo ini cuma fiksi, then ini pengalaman sapa dong?!
huahahaha…kasian tuh yang kena diare…wew ga kebayang…hiiiiiiiiiiiiiii
hahaha….. humor yg keji…hihi
kasihan banget ya mahasiswanya, kurang merhatiin dosennya sih
thanks bro, artikel yang menyegarkan
mantap nih, sdh tegang baca sampai habis ternyata endingnya bikin perut sakit tertawa, sukses mas.
mampir mas liat-liat, e-mail saya ko blm dibalas ya ?
hahahahah bener – bener gokil
tapi kalo saya pikir2 ternyata cerita lucu di atas ada sesuatu pelajaran yang sangat berharga yaitu memperhatikan sesuatu dengan baik sebelum bertindak
atau baca pertanyaanya dengan baik baru jawab pertanyaanya jadi jangan menyimakl setengah2 tul gak mas
wah,,aq menyimax sekali
rupanya si prof bener2 profesional..
cian yg diare
wakakakak ..
ngakak guling2
segitu banyak mhs g ada yg merhatiin jarinya si prof yah???
salam
TOPNews
http:// blogtopshare.blogspot.com
@ Ade: heheh kacian yaa..
@ quinie: ya blom pernah ada, namanya jg fiksi
@ casual cutie: mangkanya slalu bw diapet (hayahh titipan lagi)
@ Acha: weitt, emangnya teroris
@ Blog Bisnis Internet: sama-sama bro…
@ Bisnis Internet Indonesia: sori mas, yg itu jarang dibuka. ganti yg satunya ya…
@ alfons: setujaa! kalo terlalu buru-buru n kurang cermat dalam bertindak, bisa2 kita kena diare hehe…
@ blog sedekah: hehe, kan udah puluhan tahun ngajar..
@ Topnews: hehehe, kayanya enda ada bro…
salah satu etika yg harus dipegang seorang dokter hewan : ia tidak boleh jatuh cinta kepada pasiennya!
huahaha… lucu juga baca komennya pak guskar.
Begitu juga sebaliknya, pasiennya dilarang jatuh cinta ama dokternya
hehehe…..lucu bgt ceritanya !
@ guskar: wuakakakak.., untuk hal itu memang sudah banyak kasusnya bro…:D
@ quinie: jiahahaha…kasus sperti ini juga banyak terjadi…
@ irma: hehe thanks yah dah mampir….
wakakakakakak
si dosen bisa aja tuh
mungkin para mahasiswanya nggak ada yang pake kacamata ya?
hahahahahaha
WaKaKa….
jadi ingin ketawa…
GOKIL..
good post…
Huuaaaahhhh…Mamaku Dokter Hewan Lho !!!
@ yanuar catur: ga ada, orang dosennya aja ga pake hehe…
@ alam: hehe, kalo ketawa ngajak2 vety vera donk….
@ Itik Bali: weittt, iya to? pastinya mama kamu punya pengamatan yg tajam donk. ato pernah dikibulin dosen juga? ;p *ngabuurrr*
Hua..ha..ha…ha..dasar pak dosen sengaja ngerjain mahasiswanya, kenapa nggakd diterangin dari tadi kek ya sebelum semua pada praktek ? Pasti pada misuh2 tuh mahasiswa..
Hahahahahaha,, kasian banget tuh,, nggak teliti sih,,
denger nya aja mw muntah sob,,, hoho