Dah Ga Penting Lebay Pula

August 4, 2009
by lagi usil

Semoga ini postingan paling ndak penting yang pernah diterbitkan di blog ini. ‘Semoga’, karena saya berharap ke depan tidak lagi memposting hal remeh-temeh seperti ini. Tapi ndak janji juga sih :)

Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu, saat Persebaya, klub sepakbola nasional yang saat itu lagi di puncak prestasinya, mengalami kekalahan paling memalukan dalam sejarah persepakbolaan klub tersebut. Dia digundulin 5 – 0 kalo enda salah, oleh suatu klub yang enda elit2 amat. Lantas pelatihnya atau manajernya bilang, “Ini adalah prestasi paling buruk yang pernah dilakukan Persebaya.”

Dalam kolom Mr. Pecut (semacam kutipan singkat disertai komentar ringan),  Jawa Pos mengutip pernyataan pelatih atau manajer itu disertai komentar, “Jangan salah, itu bisa jadi bukan prestasi paling buruk kalau Persebaya tidak hati-hati dan segera berbenah diri.”

Beginyi ceritanya. Abis browsing, posting di forum-forum berbayar, mendandani website, pura-puranya  cari  duit pokoknya :) , saya kan capek (basi banget ya?). Dan itu belum semuanya. Selain capek, ternyata saya juga haus. Nah, solusi paling tepat untuk menghilangkan haus kan minum nih? Bener to? Setuju to? Akur to? Enak to? Mantep to?  Soalnya musti disepakati dulu sebelum ceritanya bisa dilanjut. Dah ya, ndak ada yang keberatan ya? Yang di pojok kanan, ndak ada masalah? Ok….. Yaa, nomor dua dari belakang. Ya kamu! Ada feedback ato interupsi? Oh pegal, kirain tadi mengacungkan tangan :D

Sampai di mana tadi? Oh, soal minum. Saya biasanya minum air putih. Sehat, tapi yang jelas murah. Tapi mendadak dangdut, eh mendadak saya pengen nyoba sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak biasanya. Sesuatu yang beda. Sesuatu yang bukan air putih. Mendadak saya pengen MILO !!!

Betapa mengejutkan.  Betapa mengherankan. Betapa saya merasa asing dengan diri saya sendiri. Betapa saya merasa tidak lagi mengenal diri saya sendiri. Betapa saya telah kehilangan kepribadian dan harga diri. Betapa prinsip-prinsip hidup, etika dan moral yang selama ini saya anut, yang membuat saya berbangga dan percaya diri dan mampu menegakkan kepala di tengah samudera kehidupan yang penuh tantangan, telah meninggalkan  saya sendirian, terombang-ambing dalam labirin kehidupan yang rumit, membingungkan, pragmatis dan tidak menyisakan ruang untuk kata-kata maaf dan terima kasih.

Dengan langkah gontai, bahu lunglai dan mata nanar saya menuju dapur. Saya buka lemari kayu di mana supermi, tepung terigu, bumbu-bumbu instant, cofeemix, nutrisari dan milo biasa disimpan. Saya merobek satu sachet milo, tapi justru hati saya yang terasa robek. Saya menyayat ujung sachet, tapi malah hati saya yang berdarah-darah.

Lantas bubuk coklat produk dunia pragmatis itu saya tuangkan ke gelas. Lalu  rasanya saya menambahkan sesendok gula pasir ke dalamnya. Tapi apa yang terjadi saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote? Ternyata itu bukan gula! Ternyata itu adalah GARAM !!!

Sejenak saya terpaku. Saya memandang ke dalam gelas dengan tatapan ngeri dan seakan tak percaya. Ternyata hal yang selama ini saya takutkan dan selalu menghantui tidur malam saya yang gelisah dengan mimpi-mimpi buruk, sekarang terjadi sudah. Saya bukan mengambil gula tetapi garam. Oh Tuhan, saya mengira garam adalah gula!

Dengan gamang dan hati berkeping saya mulai menyendoki butiran2 kristal putih berasa asin itu dan membuangnya sedikit demi sedikit. Saya pengennya membuang saja bubuk milo terkontaminasi garam itu, tapi rasanya kok sayang. Saya tidak mau hati saya dirobek dan berdarah lagi. Cukup sudah. Saya yang mulai maka saya juga yang akan mengakhiri.

Setelah sebagian besar garam bisa dibuang dan menjadi sangat sulit untuk memisahkan sisa-sisanya yang tercampur dengan bubuk milo, saya lantas mengambil gula merah dan menaruh sepotong ke dalam gelas. Saya tidak mau salah lagi. Keledai pun tidak akan terperosok dua kali ke dalam lubang yang sama. Kalaupun ada yang terperosok berkali-kali, itu karena disengaja lantaran enak hihih…

Saya lantas menghancurkan gula merah itu dengan air panas dan sendok, dan setelah seluruh gula larut dalam cairan milo, saya menambahkan 4 potong es batu yang saya ambil dari kulkas. Lantas saya mulai minum dengan ragu dan penuh kewaspadaan. Rasanya asing: coklat campur manis campur sedikit asin. Tapi lantaran haus, saya teruskan saja minumnya sampai habis.

Hm, baiklah. Poin-nya saya kira adalah fokus. Pas bikin milo tadi saya kayanya ndak fokus. Fisik saya kemana, pikiran saya kemana. Saya tidak benar-benar hadir di sana.

Dalam bukunya berjudul The Power of Now, atau Kekuatan Masa Sekarang,   Eckhart Tolle menekankan pentingnya ‘kehadiran’ dalam hidup dan setiap aktivitas yang kita lakukan.

Jadi masalahnya bukan apa yang kita lakukan, tapi bagaimana kita melakukannya. Kita didorong untuk benar-benar fokus dan hadir sepenuhnya kapan pun, di mana pun serta sedang apa pun, dan dengan tulus mendedikasikan seluruh perhatian dan kemampuan kita untuk mengerjakan dan menikmati apa yang sedang kita kerjakan.

Kita tidak harus melakukan hal-hal yang besar. Kita hanya harus melakukan hal-hal yang kecil dengan kasih yang besar. (Rujukan dari Bunda Theresa kalau ndak salah).

21 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*