Save the Best for Last

December 18, 2009
by lagi usil

William Sidney Potter,  seorang sastrawan besar pada awal abad ke-10, terkenal sebagai cerpenis yang merintis genre ‘surprisesm’. *hehe maksa banget*  Penulis yang lebih dikenal dengan nama penanya yaitu O’Henry ini dikagumi karena cerpen-cerpennya selalu berakhir dengan ending yang tak terduga. Begitu melekatnya gaya itu dengan O’Henry, sampai-sampai cerpen maupun novel yang berakhir tak terduga disebut cerita dengan ending ‘gaya O’Henry’.

Salah satu cerpen O’Henry yang paling mengesankan berjudul ‘The Gift of the Magi’. Ceritanya tentang Jim dan Della, sepasang suami istri muda yang saling mencintai (ya eyalahh, kalo enda ngapain nikah?), tak punya duit tapi masing-masing ingin membelikan hadiah Natal (dalam tradisi barat, Natal merupakan hari besar yang dirayakan semua orang, bukan hanya dari kalangan Kristiani; tradisi merayakan Natal bahkan sudah ada sejak sebelum kelahiran agama Kristen – just FYI :) ) buat pasangannya.

Tanpa setahu Jim, Della menjual mahkotanya yang paling berharga, yaitu….(huss, jangan ngeress dulu) rambut panjangnya yang bak mayang mengurai (apa basa Inggrisnya mayang mengurai ya?). Uang itu lantas dibelikan rantai arloji platina yang mewah dan tentunya mahal. Di sisi lain, tanpa setahu Della, Jim menjual arloji satu-satunya untuk membelikan Della sisir berhiaskan permata.

Ide asli cerita ini telah ditiru, digarap ulang, diparodikan maupun diceritakan kembali tiada habis-habisnya sepanjang abad ke-20. Dulu saya baca terjemahannya yang dimuat di Kompas.

O’Henry sering disebut sebagai ‘Guy de Maupassant’-nya Amerika. Maupassant (diucapkan ‘Mopasong’), penulis Perancis yang dianggap sebagai bapak cerpen modern, juga terkenal dengan endingnya yang cerdik dan tak terduga.

Gaya itu kemudian ditiru oleh penulis-penulis generasi berikutnya, baik yang mengarungi aliran sastra maupun pop. Dari jalur pop, gaya ini ditiru oleh banyak penulis ternama khususnya yang berkiprah di genre mistery, detektif dan suspense thriller. Yang paling kentara tentulah Agatha Christie, Sidney Sheldon dan Dan Brown. Bahkan mereka bergerak lebih maju lagi dengan menyuguhkan surprise tidak saja di akhir cerita tapi juga di hampir setiap halaman novelnya. Jadi kalo baca cerita mereka disiapkan saja jantungnya biar ga copot yah hihihi….

Postingan ini stok lama sebenarnya. Sudah nongkrong di dashboard sebagai draft selama berabad-abad. Saking lamanya sampai saya lupa, sebenarnya mau ngomong apa sih kok pakai intro sastra begitu :D Bentar diingat-ingat dulu….ohh, iya!

Dulu saya pernah baca postingan di sebuah blog. Isinya tentang seorang anak dari negara Cina, umur tiga tahunanlah, yang hobi merokok. Postingan itu disertai foto anak itu yang lagi beraksi dan berasap. Kebanyakan komen di postingan itu (termasuk saya hihi) mengecam atau bernada prihatin. Kecil-kecil sudah merokok, kalo besar mau jadi apa? Lokomotif?  Begitu kira-kira.

Nah entah lagi kesambet atau apa, habis komen postingan itu saya baca lagi. Gubrak! Ternyata dia merokok itu ada alasannya. Anak itu punya penyakit parah apa gitu jadi selalu merasa kesakitan, dan bapaknya mengajari dia merokok untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Nah, kan. Kalo saya dan yang lainnya membaca postingan itu sampai kelar, pastilah komennya pada lain nadanya. Entah apa hubungan merokok dengan rasa sakit, kalo tahu duduk masalahnya pastilah komen saya bernada simpati atau iba atau apalah, yang jelas bukan mengecam.

Postingan ini sebenarnya terinspirasi oleh blogger satu ini, yang dari komen-komennya di blog ini atau blog lainnya menunjukkan kalau dia selalu membaca postingan sampai tuntas sebelum meninggalkan komen.

Jadi malu. Soalnya saya kalo pas buru-buru biasanya hanya menscan postingan terus meninggalkan komen yang kira-kira mengena terhadap apa yang tertangkap oleh scan sekilas tadi, jarang membaca seluruh postingan apalagi kalo panjang. Akibatnya kadang ya seperti kasus anak merokok tadi.

Ya, mengerjakan sesuatu sampai tuntas. Mudah diucapkan tapi susah dilaksanakan. Tapi musti dilakukan, karena katanya ciri-ciri orang yang bertanggung jawab adalah selalu mengerjakan sesuatu sampai tuntas. Dimulai dari yang kecil:  membaca postingan. Semangat!

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*