Gus Dur Tidak Repot Lagi

January 7, 2010
by lagi usil

Suka dibilang kalau rahasia Tuhan itu ada empat: kelahiran, jodoh, kematian, dan Gus Dur. Tapi sebenarnya tidak persis begitu. Gus Dur sering mengejutkan dan tidak bisa diprediksi kalau dilihat secara sepotong-sepotong saja pernyataan maupun tindakannya, dan potongan-potongan itu tidak disusun dalam kerangka berpikir maupun bertindak Gus Dur.

Bagi orang-orang yang cukup mengenalnya, secara langsung maupun lewat tulisan, pernyataan maupun berita tentangnya di media massa, Gus Dur itu selalu jelas dan terang benderang.  Kalau menyangkut masalah prinsip-prinsip yang dianutnya berkaitan dengan perjuangan karna kecintaannya pada bangsa dan negara, sikap Gus Dur selalu jelas dan mudah diprediksi.

Kelas A

Ada tiga kelas manusia. Kelas A adalah mereka yang selalu mengatakan apa yang dia pikirkan, dan melakukan apa yang dia katakan. Kelas B, mungkin pikiran dan perkataannya berbeda, tapi dia selalu melakukan apa yang dia katakan. Kelas C jelas ya,  perkataannya lain dengan pikirannya, dan perbuatannya lain dengan perkataannya.

Kaum politisi biasanya masuk dalam kelas C. Ini sering diperlukan karena  mereka memang tugasnya berurusan dengan “komunikasi politik”, mencari dukungan, menggalang simpati rakyat, diplomasi, lobi, negosiasi dan tawar-menawar. Karena tuntutan lingkungan kerjanya, politisi harus siap mengkompromikan prinsipnya, martabatnya, kehormatannya, nilai-nilai hidupnya, segalanya. Demi tercapainya tujuan dan terlaksananya agendanya, politisi memang sering harus mengatakan apa yang harus dan bukan yang ingin dikatakannya, dan melakukan apa yang perlu dilakukan, bukan apa yang sudah dijanjikan.

Itulah kenapa Gus Dur tidak cocok jadi politisi.

Karena Gus Dur masuk dalam golongan atau kelas A, yang selalu menjaga satunya pikiran, perkataan dan perbuatan. “Dikatakan atau tidak dikatakan, itulah yang ada dalam pikiran saya. Karena itu mengapa tidak dikatakan saja?” begitu Jaya Suprana mengutip kalimat Gus Dur yang mencerminkan prinsipnya.

Karena Gus Dur jarang mau berkompromi. Kalau itu melanggar prinsip-prinsip yang dianutnya mengenai demokratisasi, penghargaan terhadap keberagaman dan kebebasan berekspresi, dan menyangkut kepentingan bangsa dan kemanusiaan, Gus Dur tidak pernah mau berkompromi.

Karena Gus Dur tidak pernah jaim. Kalau di pemilihan legislatif dan presiden kemarin, kabarnya para kandidat membayar mahal pakar komunikasi publik (atau politik) untuk mengajarinya cara tersenyum di depan masa yang efektif untuk menggalang dukungan dan mendulang suara, Gus Dur dulu nampaknya tidak akan mau mengikuti trend itu. Mau ketemu Bill Clinton atau sopir tronton, senyum dan kerut bibirnya ya sama saja seperti itu. Tapi kalau Gus  Dur sudah tersenyum atau tertawa, senyum atau tawanya setulus bayi. Coba lihat di TV, cuplikan pas dia menceritakan anekdot soal pemimpin-pemimpin dunia yang menghadap Tuhan untuk menanyakan nasib bangsanya.

Itulah kenapa Gus Dur tidak cocok jadi politisi.

Karena banyak faktor yang terlalu rumit dan panjang untuk diuraikan, Gus Dur memang tidak begitu sukses pas jadi presiden dulu. Tapi tidak ada yang meragukan bahwa dia adalah bapak dan guru bangsa, yang pemikiran-pemikirannya telah membawa banyak pencerahan dan perubahan bagi bangsa ini.

Soal Gus Dur diusulkan jadi pahlawan dan menimbulkan pro-kontra dan sedang dilakukan kajian untuk menentukan pantas tidaknya gelar itu, Gus Dur tentunya tidak peduli dengan itu dan juga memang tidak memerlukannya.

Begitu saja kok repot ya Gus?

Gambar dipinjam dari Wikipedia

23 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«