Jangan Diambil Hati

December 1, 2011
by lagi usil

Kayaknya kita semua punya kecenderungan untuk “mengambil hati”. Cuman, pada sebagian orang kecenderungan itu cenderung lebih besar daripada pada orang lainnya *ini hari mengulang kata-kata ya? :)

Karena berbagai alasan, “mengambil hati” itu tidak sehat dalam hubungan antar apa pun: antar karyawan, antar teman, suami-istri, antar pasangan, orangtua-anak, ….. Salah satu alasannya adalah, jika Anda biasa mengambil hati apa yang terjadi pada Anda, Anda akan selalu tergantung pada “belas kasihan” orang lain untuk tidak menyakiti hati Anda. Itu bukan cara menjalin hubungan yang sehat, dan bukan cara hidup yang baik.

Jika Anda cenderung menganggap apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain secara pribadi, ada trik kecil yang manjur untuk mengatasi hal itu. Trik ini pada dasarnya adalah pemahaman bahwa orang kadang-kadang melakukan hal-hal yang menyebalkan, dan mengerti bahwa yang mereka lakukan mungkin tidak ada hubungannya dengan kita, jadi tindakannya tidak perlu diambil hati.

Trik ini meliputi dua prinsip menjalin hubungan.

1. Prinsip pertama: Orang kadang-kadang egois. Prinsip ini kedengarannya sinis tapi baca terus yaa…

Adalah kenyataan bahwa kita punya kecenderungan mementingkan diri sendiri. Namun, sebagian orang lebih egois dari orang lainnya. Dan beberapa dari kita menjadi egois pada waktu dan situasi tertentu.

Dengan memahami dan menerima bahwa orang kadang-kadang egois, kita mengerti bahwa kadang-kadang orang:

- hanya memikirkan hal-hal yang paling baik bagi mereka,
- hanya melihat hal-hal dari sudut pandang mereka,
- hanya ingin dianggap benar tentang segala hal,
- hanya ingin melakukan semua hal sesuai dengan cara mereka,
- tidak akan berpikir bahwa apa yang mereka lakukan mungkin menyakiti hati orang lain,
- dan sebagainya.

Konsekuensinya, kadang-kadang orang akan melakukan hal tertentu hanya karena keegoisan mereka. Dan karena itu, tidak ada alasan mengapa tindakan mereka diambil hati karena tindakan itu tidak ada hubungannya dengan kita. Bahkan, kita bisa menganggap bahwa tindakan mereka hanya menunjukkan betapa egoisnya mereka.

Misalnya, jika seseorang memotong jalur Anda di jalan raya, jangan diambil hati. Anggap saja bahwa orang itu sedang menunjukkan pada kita betapa egoisnya dia. Tidak ada yang pribadi.

2. Prinsip kedua: Orang kadang-kadang punya alasan tertentu kenapa melakukan hal-hal tertentu.

Prinsip ini bukan berarti menganggap bahwa apa yang dilakukan seseorang itu selalu benar. Tidak juga berarti bahwa tindakan mereka selalu bisa dimaafkan. Bukan pula berarti bahwa mereka selalu tahu mengapa mereka melakukan hal itu. Namun selalu ada alasan.

Ini beberapa contoh alasannya:

- kebutuhan masa lalu yang tidak terpenuhi,
- kebutuhan saat ini,
- keinginan saat ini,
- masalah atau konflik di masa lalu yang tidak terselesaikan,
- rasa sakit hati di masa lalu,
- kekhawatiran atau ketakutan,
- keputusan-keputusan yang dilakukan di masa lalu,
- masalah ego,
- gangguan kepribadian misalnya: narsis, ADD, ADHD, tidak punya empati,
- dan sebagainya.

Konsekuensinya, kadang-kadang orang melakukan sesuatu melulu karena kepribadian mereka dan “beban” yang mereka sandang. Dan jika mereka termotivasi oleh hal-hal itu, tidak ada alasan tindakan mereka perlu diambil hati. Sebenarnya, Anda bisa bilang bahwa mereka melakukan hal itu karena mereka “ada masalah”. Lagi, itu tidak ada hubungannya dengan kita dan tidak ada yang pribadi.

Kesimpulannya, triknya adalah memahami dan menerima bahwa orang kadang-kadang egois dan/atau “ada masalah”, dan bahwa perilaku mereka sering tidak ada hubungannya dengan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*